Beberapa waktu lalu gue lagi ngobrol sama seorang teman yang baru keliling Lombok.
Dia cerita panjang soal pantai, sunset, dan jalanan pesisir yang indah.
Tapi di tengah obrolan itu dia tiba-tiba bilang sesuatu yang menarik.
“Yang paling gue inget malah bukan pantainya… tapi kampung tenunnya.”
Awalnya gue kira dia bercanda.
Karena biasanya orang datang ke Lombok ya fokusnya laut, Gili, atau Mandalika.
Tapi ternyata dia benar.
Begitu lo melihat langsung proses tenun tradisional Lombok, rasanya beda.
Ada sesuatu yang terasa lebih manusiawi di sana.
Lebih pelan.
Lebih sabar.
Dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Sasak.
Di Lombok sendiri ada beberapa kampung tenun yang cukup terkenal.
Tapi dua nama yang paling sering dibandingkan biasanya adalah Sukarara dan Pringgasela.
Keduanya sama-sama dikenal sebagai pusat kain tenun Lombok.
Tapi suasananya sebenarnya cukup berbeda.
Dan itu yang membuat pengalaman berkunjung ke dua tempat ini terasa unik.
Pertama kita mulai dari Sukarara.
Desa ini mungkin yang paling dikenal wisatawan.
Lokasinya berada di Lombok Tengah dan cukup mudah dijangkau dari Mandalika maupun dari arah Kota Mataram.
Begitu sampai di Sukarara, suasana desa langsung terasa hidup.
Di banyak rumah, lo bisa melihat alat tenun kayu yang masih digunakan secara manual.
Beberapa ibu duduk di teras rumah sambil menenun kain dengan gerakan yang sangat terlatih.
Gerakannya terlihat sederhana.
Tarik benang.
Tekan kayu.
Ulangi lagi.
Tapi ketika lo perhatikan lebih lama, baru terasa betapa rumitnya proses itu.
Satu kain tenun bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Yang menarik di Sukarara adalah interaksi dengan wisatawan.
Desa ini sudah cukup lama menjadi tujuan wisata budaya.
Jadi banyak warga yang terbiasa menjelaskan proses menenun kepada pengunjung.
Kadang wisatawan juga diajak mencoba duduk di alat tenun.
Biasanya sih baru beberapa menit sudah sadar kalau pekerjaan itu tidak mudah sama sekali.
Koordinasi tangan, kaki, dan benang harus benar-benar pas.
Selain melihat proses menenun, banyak orang juga datang ke Sukarara untuk membeli kain tenun langsung dari pengrajinnya.
Motifnya cukup beragam.
Mulai dari motif tradisional Sasak sampai motif yang lebih modern.
Dan biasanya setiap motif punya cerita tersendiri.

Cerita tentang alam, tentang budaya, atau tentang simbol kehidupan masyarakat Lombok.
Sekarang kita pindah ke Pringgasela.
Kalau Sukarara terasa lebih ramai, Pringgasela justru sebaliknya.
Desa ini berada di Lombok Timur dan suasananya jauh lebih tenang.
Tidak terlalu banyak wisatawan.
Tidak terlalu banyak toko.
Dan justru itu yang membuat tempat ini terasa lebih autentik.
Di Pringgasela, tenun bukan hanya kegiatan ekonomi.
Tapi juga bagian dari tradisi yang sudah sangat lama.
Banyak keluarga di desa ini yang sudah menenun selama beberapa generasi.
Teknik pewarnaannya pun masih menggunakan bahan alami.
Beberapa warna berasal dari akar tanaman.
Ada juga yang berasal dari daun atau kulit kayu.
Prosesnya lebih panjang, tapi hasil warnanya sering kali terasa lebih hidup.
Yang menarik, di Pringgasela lo bisa melihat proses tenun dari tahap yang sangat awal.
Mulai dari memintal benang, mewarnai, sampai menenun di alat tradisional.
Tidak semuanya disiapkan khusus untuk wisatawan.
Sebagian memang bagian dari aktivitas sehari-hari warga desa.
Makanya suasananya terasa sangat natural.
Kalau dibandingkan secara sederhana, Sukarara dan Pringgasela sebenarnya punya karakter yang berbeda.
Sukarara lebih mudah diakses dan lebih populer bagi wisatawan.
Interaksi dengan pengunjung lebih banyak.
Pilihan kain tenun juga biasanya lebih variatif.
Sementara Pringgasela menawarkan suasana desa yang lebih tenang.
Proses tradisionalnya terasa lebih dalam.
Dan pengalaman budayanya sering terasa lebih personal.
Banyak traveler yang datang ke Lombok sebenarnya memilih mengunjungi keduanya.
Karena jaraknya masih memungkinkan untuk dijelajahi dalam satu perjalanan.
Biasanya rutenya dimulai dari Lombok Tengah menuju Sukarara terlebih dahulu.
Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke arah Lombok Timur menuju Pringgasela.
Perjalanan seperti ini cukup menarik karena lo bisa melihat dua sisi berbeda dari budaya tenun Lombok.
Masalahnya, transportasi menuju desa-desa ini tidak selalu mudah kalau hanya mengandalkan kendaraan umum.
Beberapa jalur desa cukup jauh dari rute transportasi wisata biasa.
Itulah kenapa banyak wisatawan akhirnya memilih menggunakan jasa rental mobil di mataram, Lombok.
Dengan kendaraan sendiri, perjalanan menjadi jauh lebih fleksibel.
Lo bisa berhenti di desa kecil di tengah jalan, mampir ke sawah yang menarik, atau sekadar berhenti untuk foto di pinggir jalan.
Hal-hal spontan seperti itu sering justru jadi bagian paling berkesan dari perjalanan.
Banyak tamu yang menggunakan layanan rental mobil Lombok biasanya memang ingin eksplorasi budaya seperti ini.
Bukan hanya pantai.
Tapi juga desa, kerajinan tangan, dan kehidupan lokal masyarakat Lombok.
Karena dari situlah kita sering menemukan cerita yang berbeda.
Kadang perjalanan terbaik bukan tentang tempat yang paling terkenal.
Tapi tentang pengalaman yang membuat kita melihat kehidupan dengan cara yang berbeda.
Melihat seorang ibu menenun selama berjam-jam dengan sabar.
Melihat bagaimana benang-benang kecil bisa berubah menjadi kain indah yang penuh makna.
Hal-hal sederhana seperti itu yang sering membuat orang merasa Lombok punya sesuatu yang spesial.
Dan baik Sukarara maupun Pringgasela, keduanya adalah tempat yang mengingatkan kita bahwa tradisi masih hidup di pulau ini.
Tidak hanya disimpan sebagai cerita.
Tapi benar-benar dijalani setiap hari.




