Beberapa bulan terakhir ini gue sering mikir…
Kenapa ya kalau orang ngomongin Lombok, yang muncul di kepala pasti cuma tiga nama: Trawangan, Meno, Air?
Seolah-olah Lombok itu cuma segitu doang.
Padahal pulau ini luas, garis pantainya panjang, dan lautnya… ya ampun, kayak Tuhan lagi niat banget waktu bikin.
Awalnya gue juga gitu.
Kalau ada tamu atau temen nanya, “Ke Gili enaknya yang mana?”
Refleks jawabnya pasti tiga itu lagi, tiga itu lagi.
Sampai suatu hari, gue iseng nyetir agak jauh ke selatan. Bukan karena punya rencana besar. Cuma pengen lihat sisi lain Lombok yang jarang dibahas orang.
Dan di situ gue nemu sesuatu yang bikin mikir,
ternyata yang tenang itu sering kali bukan yang paling terkenal.
Gili Selatan itu sederhananya kumpulan pulau kecil di bagian barat daya Lombok. Yang paling sering disebut biasanya Gili Gede, Gili Asahan, Gili Layar, sama Gili Rengit.
Bedanya sama tiga Gili Utara?
Yang satu rame, yang satu adem.
Yang satu penuh beach club dan party, yang satu lebih banyak suara angin dan ombak.
Bukan berarti yang utara jelek ya. Enggak.
Cuma kadang kita tuh butuh liburan yang bukan buat pamer story, tapi buat beneran istirahat.
Waktu pertama kali sampai di Gili Gede, gue langsung ngerasa…
kok beda ya?
Gak ada musik jedag-jedug dari kafe pinggir pantai.
Gak ada sepeda berjejer penuh turis.
Gak ada antrean panjang buat naik boat.
Yang ada cuma laut biru tenang, perahu nelayan, dan anak-anak lokal yang lari-lari tanpa beban.
Di situ gue sadar,
ternyata definisi “healing” tiap orang beda-beda.
Ada yang healing-nya harus ada sunset party.
Ada yang healing-nya cukup duduk diem sambil ngopi, liatin air laut.
Dan Gili Selatan itu cocok banget buat tipe kedua.
Tapi jujur ya…
akses ke sini emang gak sepraktis ke Gili Trawangan.
Kalau ke tiga Gili Utara, tinggal ke Bangsal, naik boat, beres.
Kalau mau ke Gili Selatan, lo harus turun ke daerah Sekotong dulu.
Nah di sinilah pentingnya transportasi yang fleksibel.
Banyak tamu Lombok Permata yang awalnya ragu mau ke Gili Selatan karena mikir ribet.
Padahal begitu mereka pakai layanan sewa mobil Lombok bandara atau rental mobil Lombok yang supirnya udah paham rute, semuanya jadi gampang.
Lo tinggal duduk santai, nikmatin perjalanan.
Lewat sawah, bukit, pantai-pantai tersembunyi yang bahkan belum tentu muncul di Google.
Dan justru perjalanan daratnya itu yang bikin experience-nya lengkap.

Gue pernah anter satu keluarga dari Jakarta.
Mereka awalnya minta ke Gili Trawangan. Standar lah.
Tapi karena lagi high season, hotel full, harga naik.
Akhirnya gue saranin coba Gili Selatan.
Awalnya mereka skeptis.
“Sepi gak sih?”
“Nanti anak-anak bosan gak?”
Tiga hari kemudian, pas balik ke darat, si bapaknya cuma bilang,
“Mas, ini sih beda kelas ya. Kayak punya pulau sendiri.”
Dan gue cuma senyum.
Karena emang itu rasanya.
Privat, tenang, gak terburu-buru.
Snorkeling di Gili Selatan juga gak kalah.
Airnya jernih, terumbu karangnya masih sehat, dan spot-nya gak penuh orang.
Lo bisa berenang tanpa harus sikut-sikutan sama rombongan lain.
Bisa berhenti di satu titik, diem, ngambang, liat ikan lalu-lalang tanpa ada teriakan guide yang buru-buru ngajak pindah spot.
Kadang kita gak sadar,
yang bikin capek itu bukan aktivitasnya.
Tapi ritmenya yang terlalu cepat.
Dan Gili Selatan ngajarin lo buat pelan.
Soal penginapan, pilihannya memang gak sebanyak di utara.
Tapi justru itu daya tariknya.
Banyak resort kecil yang intimate, cottage kayu pinggir pantai, atau homestay yang dikelola langsung sama pemiliknya.
Lo bangun pagi, buka pintu, langsung lihat laut.
Sarapan disiapin dengan senyum, bukan sekadar formalitas.
Ada rasa personal yang gak bisa dibeli dengan harga mahal sekalipun.
Dan kalau dipikir-pikir,
kadang kita tuh terlalu fokus ke tempat yang “terkenal”.
Padahal yang bikin liburan berkesan itu bukan seberapa viral lokasinya.
Tapi seberapa hadir kita di momen itu.
Gili Selatan mungkin gak seramai Gili Trawangan.
Gak sepopuler Gili Air.
Gak seikonik Gili Meno.
Tapi justru di situlah letak nilainya.
Dia gak teriak minta perhatian.
Dia cuma ada, tenang, nunggu lo datang.
Buat lo yang lagi rencana ke Lombok dan pengen sesuatu yang beda, coba deh pertimbangkan arah selatan.
Sewa mobil Lombok itu bukan cuma soal pindah dari titik A ke titik B.
Tapi soal kebebasan buat eksplor tempat-tempat yang belum tentu masuk itinerary mainstream.
Dengan rental mobil Lombok yang nyaman dan driver berpengalaman, lo bisa atur waktu sendiri.
Mau berhenti foto di bukit? Bisa.
Mau mampir makan seafood lokal? Tinggal bilang.
Mau santai tanpa kejar-kejaran jadwal? Itu justru yang paling enak.
Akhirnya gue paham…
Lombok itu bukan cuma tentang tiga Gili yang sering muncul di feed Instagram.
Lombok itu luas, dalam, dan penuh kejutan kalau lo mau sedikit usaha buat menjelajah.
Dan kadang, alternatif itu bukan pilihan kedua.
Bisa jadi justru pilihan terbaik.
Jadi kalau lo ngerasa pengen liburan yang lebih sunyi, lebih intim, lebih “dapet”,
mungkin jawabannya bukan di utara.
Mungkin jawabannya ada di selatan.
Dan siapa tahu,
di sana lo gak cuma nemu pantai yang sepi.
Tapi juga versi diri lo yang lebih tenang.




