Wisata Belanja di Sentra Rungkang Lombok

Wisata Belanja di Sentra Rungkang Lombok

Beberapa waktu lalu, gue nganter tamu—sepasang suami istri dari Jakarta—pakai mobil sewaan dari Lombok Permata. Ceritanya mereka habis honeymoon di Gili Trawangan dan sebelum pulang, pengin belanja oleh-oleh yang bukan cuma gantungan kunci atau kaos bertuliskan “I Love Lombok.”

Akhirnya, gue ajak mereka ke tempat yang jarang disorot media, tapi justru di sanalah “jiwa” Lombok bersemayam—Sentra Rungkang.

Sentra Rungkang itu apa sih?

Bayangin sebuah perkampungan kecil di daerah Sayang-Sayang, Mataram. Suasana adem, tenang, dan… entah kenapa, wangi bambu basah selalu tercium begitu mobil mulai masuk gang. Rungkang itu nama lain dari kerajinan bambu yang dibentuk jadi barang-barang cantik. Mulai dari tempat buah, vas bunga, baki saji, sampai lampu hias yang kalau malam dinyalain, pantulan cahayanya kayak lukisan bayangan di dinding.

Tapi yang paling nyentuh, bukan barang-barangnya.
Yang bikin gue merinding… itu prosesnya.

Ada suara, ada irama

Lo pernah denger suara bambu dipukul-pukul?
Buat sebagian orang, mungkin itu cuma “tok-tok-tok” biasa. Tapi di Rungkang, suara itu jadi musik latar kehidupan warga.

Di sana, tiap rumah ibarat studio seni. Nggak ada mesin pabrik, nggak ada tangan robot. Yang ada cuma tangan-tangan keriput penuh cerita, motong, ngebelah, lalu nyusun bilah-bilah bambu dengan sabar.

Kadang anak kecil bantuin, kadang bapaknya kerja sambil ngerokok, dan ibunya sambil ngerumpi. Tapi hasil akhirnya? Rapi. Presisi. Estetik.

“Kami bukan cuma bikin kerajinan, kami sedang membangun warisan”

Kalimat ini keluar dari Pak Darman, pengrajin Rungkang yang udah 30 tahun bikin kerajinan bambu. Waktu itu tamu gue ngobrol-ngobrol sama beliau, dan lo tau nggak? Ibu-ibu kota yang biasanya beli barang cuma karena “unik” dan “Instagramable”, kali ini mereka diem, kagum.

Ternyata, Rungkang bukan cuma soal jualan barang.
Setiap helai bambu itu, udah ngalamin berhari-hari dijemur, direndam, dikerok, dikeringkan, lalu dianyam.
Ada waktu, ada energi, ada dedikasi yang gak bisa lo beli di toko oleh-oleh biasa.

Yang lo beli bukan cuma barang, tapi juga harapan

Salah satu hal yang bikin gue selalu bangga nganter tamu ke sini adalah: lo bisa lihat, uang yang lo keluarkan langsung nyambung ke dapur mereka.
Beda banget rasanya beli dari tangan pertama dibanding ambil di toko souvenir besar yang udah markup harga berkali-kali lipat.

Di Rungkang, tawar-menawar itu bukan tentang menang atau kalah. Tapi tentang negosiasi yang penuh senyum, diakhiri ucapan,
“Terima kasih ya, Bu. Ini buat sekolah anak saya juga.”

Tamu gue waktu itu bahkan sempat kasih tips ke salah satu pengrajin. Katanya, “Ini bukan kasihan, tapi rasa hormat buat tangan-tangan yang bikin kerajinan ini.”

Lombok Permata dan perjalanan yang penuh cerita

Sebagai penyedia sewa mobil Lombok, kita tuh gak cuma jual kendaraan. Kita jual akses.
Akses menuju pengalaman.
Akses menuju interaksi tulus.
Akses menuju cerita yang gak bakal lo temuin kalau cuma stay di hotel dan keliling pusat oleh-oleh modern.

Mobil kita mungkin keliatan biasa. Tapi di balik stir itu, ada driver yang tahu jalan-jalan kecil yang jarang dipasang plang, tapi penuh makna.
Kita tahu kapan harus berhenti sebentar di warung pinggir jalan buat beli es kelapa, dan kapan harus pelan-pelan biar gak ganggu proses pengeringan bambu di depan rumah warga.

Dan lo gak perlu khawatir soal kenyamanan, karena armada kita selalu dirawat dan wangi (kecuali abis hujan deres dan jalan becek ya, bro… wajar dikit).

Waktu pulang, bukan cuma bagasi yang penuh… tapi hati juga

Di perjalanan balik ke hotel, tamu gue diem aja.
Bukan karena capek, tapi karena habis mengalami sesuatu yang gak bisa dijelasin pake kata-kata.

Di tangan mereka ada satu keranjang anyaman bambu yang mereka beli, di hati mereka ada kenangan tentang Pak Darman dan warga Rungkang.

Dan gue?
Gue cuma duduk di depan, nyetir sambil mikir:
Inilah kenapa gue gak pernah bosen kerja di Lombok Permata.
Karena setiap perjalanan bareng tamu, selalu ada momen yang bikin hati hangat.

Penutup dari seorang sopir yang (kadang) jadi storyteller

Jadi, kalau lo lagi liburan di Lombok dan mikir mau belanja oleh-oleh yang beda…
Skip dulu pusat oleh-oleh gede-gede itu.
Ajak aja sopir dari Lombok Permata, dan bilang,
“Bang, bisa gak kita mampir ke Sentra Rungkang?”

Gue janji, perjalanan itu akan lebih dari sekadar beli barang.
Itu akan jadi pertemuan antara wisatawan dan kehidupan lokal yang nyata.
Yang sederhana, tapi dalam.

Dan pas lo duduk di rumah nanti, lihat kerajinan itu, lo bakal ingat…
Bahwa Lombok gak cuma indah di pantainya,
tapi juga di tangan-tangan yang terus bekerja diam-diam—di tengah wangi bambu dan suara “tok-tok-tok” yang gak pernah berhenti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Sewa Mobil Lombok