Beberapa waktu terakhir ini gue sering kepikiran…
kenapa ya, perjalanan yang paling nempel di kepala itu bukan yang paling mahal, bukan juga yang paling rame di Instagram.
Tapi justru yang jalannya panjang, kadang sepi, kadang bikin nyasar dikit,
dan di tengah jalan kita malah banyak diem.
Kayak roadtrip ke Lombok Timur.
Bukan karena Lombok Timur itu viral.
Bukan juga karena spot-nya harus selalu estetik.
Tapi karena di sana, lo pelan-pelan dipaksa nurunin ritme hidup.
Dan itu… gak semua orang siap.
Awalnya simpel.
Gue pikir roadtrip ini cuma soal pindah dari satu pantai ke pantai lain.
Ternyata enggak.
Begitu roda mobil mulai ninggalin area kota, suasananya langsung berubah.
Bangunan mulai jarang.
Sinyal kadang naik-turun.
Dan pikiran lo yang biasanya ribut, mulai kehabisan bahan buat panik.
Di Lombok Timur, jalan itu bukan cuma penghubung lokasi.
Dia kayak ruang transisi.
Transisi dari kepala yang penuh target, ke hati yang mulai nerima keadaan.
Pantai pertama yang lo temuin biasanya masih terasa “wisata”.
Pasirnya luas, ombaknya tenang, dan angin lautnya agak galak.
Tapi lama-lama, semakin ke timur, pantainya makin sunyi.
Di titik ini, lo mulai sadar:
oh… ternyata indah itu gak selalu perlu penonton.
Kadang cuma perlu lo sendiri, duduk di kap mobil,
dengerin angin,
dan ngerasain badan lo akhirnya berhenti tegang.
Lanjut naik ke area perbukitan.
Jalannya mulai berkelok, naik-turun, dan bikin refleks nyetir jadi lebih sadar.
Di kiri kanan, bukit hijau berdiri kayak penjaga yang gak banyak ngomong.
Lo gak bisa ngebut.
Bukan karena gak bisa, tapi karena rasanya gak pantas.

Bukit-bukit Lombok Timur itu ngajarin satu hal penting:
hidup gak harus selalu cepat buat sampai.
Kadang justru di jalan pelan itulah,
lo mulai denger suara kepala sendiri.
Dan anehnya, gak semua suara itu perlu diturutin.
Terus masuk ke desa-desa tradisional.
Di sini suasananya berubah lagi.
Anak-anak main tanpa gadget.
Orang tua duduk santai sambil ngobrol pelan.
Rumah-rumah berdiri sederhana, tapi kok rasanya kokoh banget.
Lo mulai ngerasa jadi orang asing yang lagi belajar jadi manusia lagi.
Di desa, waktu itu gak dikejar.
Dia ditemenin.
Dan di momen ini biasanya muncul pikiran random:
“Kok mereka kayaknya baik-baik aja ya hidupnya?”
Padahal mungkin penghasilan gak seberapa.
Padahal mungkin hidup gak semewah kota.
Tapi wajah-wajahnya… tenang.
Bukan karena gak punya masalah.
Tapi mungkin karena gak semua hal harus dibikin ribet.
Roadtrip di Lombok Timur ngajarin gue satu hal penting:
perjalanan itu bukan soal destinasi, tapi soal seberapa jujur lo sama diri sendiri di tengah jalan.
Makanya, roadtrip di sini tuh lebih enak pake mobil sendiri atau mobil sewaan. dan bisa sewa mobil di lombok dari lombok permata
Bukan buat gaya-gayaan.
Tapi biar lo punya kendali penuh atas ritme.
Lo bisa berhenti kapan aja.
Belok mendadak.
Atau cuma diem 10 menit karena pemandangannya keburu masuk ke dada.
Dan ini penting.
Karena Lombok Timur itu bukan tipe tempat yang bisa lo kejar pakai itinerary ketat.
Dia gak suka dikejar.
Dia lebih cocok ditemenin.
Kadang lo ngerasa perjalanan ini kayak terapi kecil.
Bukan yang dramatis.
Gak ada momen nangis-nangis di pinggir jalan.
Tapi pulangnya, kok dada terasa lebih lapang.
Kayak ada beban yang diturunin tanpa seremoni.
Dan mungkin itu sebabnya banyak orang yang setelah roadtrip ke Lombok Timur,
jadi pengen balik lagi.
Bukan buat ngulang foto.
Tapi buat ngulang rasa.
Rasa pelan.
Rasa hadir.
Rasa cukup.
Jadi kalau suatu hari lo ngerasa hidup kok kayak dikejar terus,
deadline, target, ekspektasi…
coba aja ambil mobil, arahkan ke timur Lombok,
dan biarin jalan yang ngajarin lo bernapas lagi.
Karena gak semua perjalanan harus bikin lo berubah drastis.
Kadang cukup bikin lo inget:
oh iya… ternyata gue masih bisa tenang.
Dan itu udah lebih dari cukup.
