Beberapa hari lalu, gue lagi duduk di depan laptop, buka Google Maps sambil ngetik-ngetik random keyword di kolom pencarian. Bukan nyari cafe, bukan juga penginapan. Tapi pantai. Iya, pantai. Tapi yang nggak terkenal. Yang kalo lo tanya ke orang lokal aja, mereka masih sempet mikir: “Oh itu… yang mana ya?”
Dan entah kenapa, jari gue berhenti di satu titik. Nama yang muncul: Pantai Sungkun. Gak banyak foto, gak banyak ulasan, dan bahkan gak jelas diakses dari mana. Tapi justru itu yang bikin gue tertarik. Karena kadang, tempat yang belum banyak disebut… justru nyimpen cerita paling jujur.
Jalan ke Sana Gak Mulus, Tapi Justru Itu yang Bikin Terasa
Gue langsung kontak tim Lombok Permata, penyedia jasa rental mobil Lombok yang udah sering gue andelin tiap pengen nyelam ke pelosok pulau ini. Mas Narto, supir yang udah jadi temen seperjalanan spiritual (dan duniawi), langsung siapin mobil dengan suspensi empuk dan AC dingin.
Perjalanan dari Mataram ke Sungkun butuh waktu sekitar 2,5 jam. Jalannya? Jangan harap halus terus. Di beberapa titik, jalanan mulai berubah jadi tanah merah, berbatu, dan sempit. Tapi di sanalah letak seninya. Karena gue sadar, semakin sulit tempat dijangkau, biasanya… isinya makin murni.
Pas Sampai… Gue Cuma Bisa Diam
Gak ada tenda, gak ada cafe, bahkan gak ada parkiran resmi. Mobil kita berhenti di ujung jalan, lalu lanjut jalan kaki sekitar 10 menit lewatin ilalang dan semak kecil. Dan waktu vegetasi terbuka…
Gue ketemu sebuah lanskap yang gak bisa dijelaskan dengan kata “indah” doang.
Pantainya luas, sepi, dan lautnya… nyaris tak bersuara. Ombak besar kelihatan di kejauhan, tapi di bibir pantai cuma sisa riak kecil yang menyentuh pasir. Di sisi kiri, ada bukit kecil dengan satu batu besar yang bentuknya kayak kepala naga, menjulur ke laut. Orang-orang kadang nyebut ini “Pantai Naga”, walau di peta tetep tertulis Pantai Sungkun.
Gue duduk, dan selama beberapa menit… gak ngapa-ngapain. Gak buka HP, gak ambil kamera. Cuma napas. Pelan. Dalem.
Ke Sunyi Itu Perlu Niat, dan Mobil yang Nyaman
Di era sekarang, untuk bisa ketemu sunyi tuh butuh perjuangan. Dan salah satu hal paling penting adalah: lo harus nyampe duluan. Gak semua pantai di Lombok bisa dijangkau motor matic. Dan bahkan kadang GPS suka ngajak ribut.
Makanya buat lo yang pengen eksplor spot kayak gini, menurut gue, rental mobil Lombok tuh bukan cuma soal transportasi. Tapi juga soal kenyamanan menuju proses sunyi. Dan itu yang gue rasain bareng Lombok Permata. Supirnya ngerti rute, ngerti ritme perjalanan, dan yang paling penting—gak cerewet. Kadang justru, di momen kayak gitu, supir yang diem itu berkah.

Pantai Tanpa Nama yang Bikin Kita Ingat Nama Diri Sendiri
Ada satu momen di mana gue jalan ke arah batu besar yang menjorok ke laut. Gue berdiri di atasnya, dan liat seluruh pantai dari atas. Angin keras, tapi gak menggigit. Dan gue sempet mikir:
“Kenapa ya… tempat kayak gini gak viral?”
Mungkin karena gak semua tempat perlu viral. Mungkin karena gak semua keindahan harus dibagi ke orang lain. Dan mungkin… karena beberapa pantai memang sengaja dibiarkan ‘tak bernama’, supaya kita bisa nemuin nama kita sendiri di sana.
Di tengah semua keriuhan hidup, Pantai Sungkun adalah mute button yang gak sengaja kita pencet.
Pulang Tapi Gak Sepenuhnya Balik
Waktu mobil mulai melaju ninggalin bibir pantai, gue ngerasa kayak baru habis meditasi. Gak ada hal dramatis yang terjadi. Tapi perasaan gue kayak… enteng. Tenang. Bukan karena semua masalah selesai, tapi karena kepala gue gak lagi berisik.
Dan gue sadar… healing itu gak selalu bentuknya terapi, journaling, atau mandi air mawar. Kadang, lo cukup duduk di tempat yang sunyi, ditemani laut dan angin, lalu diem aja. Gak ada yang nyuruh lo nangis, gak ada juga yang nuntut lo happy. Lo cuma… ada.
Jadi, Kalau Lo Ngerasa Dunia Terlalu Ramai…
Coba arahkan diri lo ke selatan Lombok. Cari tempat yang bahkan Google belum yakin lokasi pastinya. Lalu sewa mobil dari Lombok Permata, duduk di jok belakang, dan bilang ke supirnya, “Saya pengen ke tempat yang gak banyak orang tahu.”
Mungkin lo akan dibawa ke Sungkun. Mungkin ke pantai lain yang bahkan belum punya nama. Tapi yang pasti: lo bakal ketemu sesuatu yang udah lama gak lo denger.
Suara diri lo sendiri.
Lombok Permata – Mengantar Bukan Sekadar Tujuan, Tapi Juga Ketulusan.
