Beberapa waktu lalu, gw ngerasa hidup kok kayak dikejar-kejar terus.
Bukan karena banyak masalah besar, tapi karena hal kecil numpuk. Notifikasi, deadline, obrolan yang gak kelar-kelar. Kepala penuh, tapi hati kosong.
Akhirnya gw mutusin buat kabur sebentar. Bukan jauh-jauh ke luar negeri. Cukup ke Bukit Anak Dara.
Awalnya gw pikir ini cuma bukit buat sunrise-an. Naik, foto, turun. Tapi ternyata, perjalanan ke Anak Dara itu bukan soal sampai di puncak. Tapi soal proses pelan-pelan ninggalin hiruk pikuk.
Perjalanan dimulai dari darat. Dari kota, jalannya panjang tapi menyenangkan. Sawah, desa, udara yang makin dingin. Di titik ini, gw sadar pentingnya pakai sewa mobil Lombok murah. Jalan menuju kaki bukit gak semuanya mulus, dan fleksibilitas itu penting. Mau berhenti sebentar, ngopi, atau sekadar tarik napas, semua bisa tanpa buru-buru.
Sampai di area parkir, suasana udah beda. Lampu kota gak kelihatan. Sinyal mulai ngilang. Dan anehnya, itu bikin lega.
Pendakian Bukit Anak Dara sebenarnya gak ekstrem, tapi tetap butuh persiapan. Jalurnya jelas, tanjakannya ada, dan kalau malam hari, senter jadi sahabat setia. Gw naik sambil mikir, kenapa ya kita jarang mau capek buat hal yang bikin hati tenang?
Sampai di area camping, angin dingin langsung nyambut. Tenda berdiri, matras digelar, dan langit malam jadi atap paling luas yang pernah gw punya. Gak ada suara mesin, cuma angin dan sesekali obrolan pelan.

Tidur di sini tuh gak lama, tapi cukup. Bangun sebelum subuh, mata masih berat, tapi badan kayak otomatis bangkit. Karena semua orang tau, momen paling jujur ada di depan.
Sunrise di Bukit Anak Dara itu gak lebay. Pelan. Langit berubah warna sedikit demi sedikit. Gunung-gunung di sekitar mulai keliatan siluetnya. Dan di momen itu, gw ngerasa kecil tapi utuh. Kayak diingetin kalau hidup gak harus selalu rame buat terasa berarti.
Banyak yang nanya, aman gak ke Bukit Anak Dara pakai mobil? Jawabannya: aman, asal tau batas. Sampai area parkir bisa ditempuh kendaraan roda empat, tapi tetap harus hati-hati. Jalur desa, tanjakan, dan beberapa titik sempit butuh fokus. Makanya, kendaraan yang prima dan supir yang tenang itu penting.
Itulah kenapa rental mobil Lombok jadi pilihan logis. Bukan soal gaya, tapi soal rasa aman. Perjalanan jadi bagian dari pengalaman, bukan sumber stres.
Setelah turun, badan pegal, kaki capek, tapi hati enteng. Gw duduk sebentar di dekat mobil, ngeliatin bukit dari bawah. Rasanya beda sama pas naik. Ada rasa selesai. Bukan selesai menaklukkan, tapi selesai berdamai.
Bukit Anak Dara ngajarin satu hal penting. Kadang kita gak butuh tempat mewah buat recharge. Cukup tempat yang jujur. Yang bikin kita mau diam, mau capek dikit, dan mau bangun pagi tanpa keluhan.
Buat lo yang pengen sunrise camping pertama kali, Anak Dara cocok. Gak terlalu ekstrem, tapi tetap ngasih rasa petualangan. Datang dengan niat pelan, bukan ambisi.
Dan satu hal lagi yang gw pelajari dari perjalanan ini.
Kadang, jarak terbaik dari masalah bukan dengan lari jauh, tapi dengan naik sedikit lebih tinggi. Supaya kita bisa ngeliat hidup dari sudut yang lebih luas.
Bukit Anak Dara mungkin cuma bukit buat sebagian orang. Tapi buat gw, dia jadi pengingat. Bahwa hidup gak harus selalu cepat. Kadang, cukup jalan pelan, bangun pagi, dan ngeliat matahari terbit tanpa banyak pikiran.
Dan setelah itu, lo turun lagi ke dunia nyata. Tapi dengan napas yang lebih panjang.
