Beberapa hari di Lombok bikin gue kepikiran satu hal aneh.
Kenapa ya sekarang gue lebih milih bangun pagi, nyari kopi, dan duduk lama…
daripada ngejar spot viral?
Dulu, traveling tuh rasanya kayak lomba.
Siapa paling banyak foto.
Siapa paling cepat pindah tempat.
Siapa paling update story.
Sekarang?
Gue cuma pengen kopi enak dan laut yang diem.
Perjalanan ke Gili Trawangan pagi itu sebenernya biasa aja.
Tapi entah kenapa rasanya beda.
Mungkin karena gak ada target.
Gak ada itinerary ketat.
Gak ada ambisi “harus ngapain”.
Mobil yang gue pakai dari Lombok jalan pelan,
dan untuk pertama kalinya, gue gak keberatan macet dikit.
Karena di kepala gue cuma satu:
nyari cafe kecil yang gak teriak minta difoto.
Sesampainya di Gili, suasananya masih setengah bangun.
Sepeda lewat pelan.
Suara ombak masih lebih dominan daripada musik.
Dan matahari belum sok jadi pusat perhatian.
Gue jalan kaki agak menjauh dari keramaian.
Masuk gang kecil.
Lewat pohon kelapa.
Sampai akhirnya nemu satu cafe…
tanpa papan besar, tanpa menu norak.
Cuma meja kayu, kursi sederhana, dan laut di depan mata.
Gue duduk.
Pesan kopi.
Dan untuk beberapa menit pertama, gue gak ngapa-ngapain.

Gak buka HP.
Gak mikir caption.
Cuma denger suara ombak yang ritmenya konsisten,
kayak napas orang yang lagi tenang.
Di situ gue sadar,
ternyata hidden cafe itu bukan soal rahasia lokasinya.
Tapi soal rasa yang dia tawarin.
Kopinya dateng.
Gak ribet.
Gak banyak gimmick.
Tapi rasanya jujur.
Dan anehnya, kopi itu bikin gue mikir:
kok hidup bisa sesimpel ini ya?
Kadang kita ribut sendiri,
padahal yang kita butuhin cuma duduk, minum, dan liat laut.
View laut dari cafe itu gak lebay.
Bukan yang biru super kontras.
Tapi biru lembut yang bikin mata istirahat.
Beberapa kapal kecil lewat.
Pelan.
Tanpa klakson.
Tanpa drama.
Gue ngerasa kayak lagi diizinin berhenti sebentar dari dunia yang kebanyakan suara.
Di situ juga gue mikir soal perjalanan gue ke titik ini.
Kalau dari awal ribet cari kendaraan,
kalau mobil bermasalah,
kalau jadwal berantakan…
Mungkin gue gak akan duduk setenang ini.
Kadang orang mikir sewa mobil di Lombok itu cuma urusan teknis.
Padahal buat gue, itu soal menjaga mood.
Karena perjalanan yang nyaman bikin kita sampai dengan kepala yang gak capek duluan.
Hidden cafe di Gili Trawangan ngajarin gue satu hal sederhana:
yang tenang itu bukan berarti membosankan.
Justru di situ kita bisa denger diri sendiri.
Dan lucunya,
hal-hal kayak gini gak pernah masuk daftar “top 10 tempat hits”.
Karena dia gak cocok buat orang yang buru-buru.
Waktu gue akhirnya bangkit dari kursi,
kopi udah habis,
mata udah puas,
dan kepala… enteng.
Bukan karena semua masalah ilang.
Tapi karena gue gak bawa semuanya ke meja kopi.
Di perjalanan balik,
gue senyum sendiri.
Ternyata liburan yang paling nyantol bukan yang paling rame.
Tapi yang bikin kita pelan tanpa merasa bersalah.
Dan Gili Trawangan,
dengan hidden cafe-nya, kopi yang jujur, dan laut yang gak ribut,
ngasih gue itu.
Akhirnya gue paham,
mungkin sekarang gue lebih milih perjalanan yang rapi,
kendaraan yang nyaman,
dan tujuan yang gak maksa gue jadi siapa-siapa.
Karena liburan bukan soal kabur dari hidup.
Tapi soal nemu ruang kecil buat bernapas.
Dan kalau itu bisa dimulai dari secangkir kopi di pinggir laut,
ya…
mungkin itu bukan kebetulan.
Kadang yang kita cari bukan tempat baru.
Tapi versi diri kita yang lebih tenang setelah sampai.
Dan Gili, pagi itu,
ngasih gue versi itu—
tanpa ribut,
tanpa drama.
