Jelajahi Hutan Mangrove Gili Air dengan Perahu Dayung

Beberapa bulan terakhir, entah kenapa gue sering ngerasa pengin menjauh sebentar dari rutinitas. Bukan karena lelah banget, bukan juga karena drama hidup yang gimana-gimana. Tapi kayak ada bagian dari diri gue yang minta diajak pelan-pelan, minta diajak… istirahat.

Akhirnya suatu pagi, tanpa rencana panjang, gue mutusin buat pergi ke Gili Air. Niat awalnya cuma mau cari angin, tapi ternyata perjalanan itu malah jadi semacam ruang sunyi yang gue butuhin selama ini.

Dan entah gimana, langkah kaki gue waktu itu mengarah ke satu tempat yang selalu kedengeran sepele kalau diceritain, tapi justru meninggalkan kesan paling dalam: hutan mangrove di Gili Air.

Bukan pantainya. Bukan lautnya.
Justru hutan mangrove-nya, lewat perjalanan sederhana pakai perahu dayung.

Awal mula petualangan itu juga sebenarnya random. Gue naik kapal pagi dari Lombok, dan seperti biasanya kalau ke daerah Gili, gue pakai mobil sewaan dari Lombok Permata. Udah beberapa kali gue sewa mobil Lombok lepas kunci, dan entah kenapa gue selalu balik lagi ke Lombok Permata karena servisnya enak, mobilnya bersih, dan prosesnya nggak ribet. Cuma tinggal WA, mobil udah ready. Selesai.

Tapi bukan itu poin ceritanya.
Poinnya adalah… semua yang gue lakukan hari itu terjadi dengan ritme yang pelan. Nggak terburu-buru. Nggak dikejar-kejar target. Dan gue baru sadar, ternyata ritme pelan itu yang bikin banyak hal malah lebih kerasa.

Sampai di Gili Air, gue berjumpa dengan seorang bapak tua yang nyewain perahu dayung sederhana. Warnanya udah pudar, dayungnya udah kusam, tapi justru itu yang bikin gue merasa, “Kayaknya ini tempat yang tepat buat gue.”

Bapak itu cuma bilang, “Kalau mau masuk area mangrove, jangan buru-buru. Biarkan perahu yang jalan sendiri.”

Waktu itu gue ketawa kecil, tapi begitu masuk area mangrove… gue langsung ngerti maksudnya.

Di dalam sana, semuanya berubah.
Angin lebih pelan.
Air lebih tenang.
Burung-burung kayak bisik-bisik, bukan teriak-teriak.

Dan anehnya lagi, pikiran gue yang biasanya nggak bisa diem, ikut jadi sunyi.

Gue dayung pelan, terus berhenti.
Dayung lagi, berhenti lagi.
Sampai lama-lama gue sadar, gue bahkan nggak tau gue mau kemana.
Tapi rasanya… ya sudah. Nggak ada urgensi buat sampai di satu titik.

Di tengah mangrove itu, gue baru sadar sesuatu yang selama ini mungkin gue skip: hidup itu bukan soal lari cepat. Bahkan kadang bukan soal bergerak sama sekali. Kadang diam justru bikin lo nyampe lebih jauh.

Dan gue nggak tahu apakah itu karena suasana mangrove atau karena gue memang lagi butuh momen sunyi, tapi di situ gue kayak dikasih ruang buat jujur sama diri sendiri.

Ada satu momen kecil tapi ngena.

Pas lagi diem, dayung gue tiba-tiba nyentuh akar mangrove yang keras tapi terasa hidup. Kayak disentuh balik gitu. Dan gue mikir, hidup kita tuh kadang kayak akar mangrove: kusut, bercabang, nggak rapi, tapi tetap kuat nyangga semuanya.

Mungkin karena itu, mangrove bisa hidup di air asin.
Mungkin karena itu juga, manusia bisa bertahan meskipun hidupnya kadang nggak manis-manis amat.

Dan di antara refleksi itu, gue sempat mikir tentang perjalanan ke Gili Air ini. Kalau bukan karena gue sewa mobil dari Lombok Permata dan berangkat pagi, mungkin gue nggak bakal sampai di momen tepat ini. Kadang keputusan-keputusan kecil itu yang justru nganterin kita ke pengalaman paling berarti.

Mobil yang nyaman, perjalanan yang mulus, nggak ribut soal transportasi—semua itu bikin kepala gue nggak kebagi dua. Jadi gue bisa ngerasain momen penuh, bukan setengah-setengah.

Ini salah satu hal yang sering orang lupa: kenyamanan perjalanan itu mempengaruhi kualitas pengalaman di tujuan.

Gue menghabiskan hampir satu jam cuma muter pelan di antara akar mangrove. Sederhana banget, bahkan mungkin buat orang lain nggak penting. Tapi buat gue, itu semacam tombol reset.

Waktu keluar dari area mangrove dan kembali kena angin laut lepas, gue ngerasa… ringan. Bukan bahagia heboh yang meledak-ledak, tapi bahagia yang tenang. Yang nggak ribut. Yang cuma terasa di dada.

Kayak lo baru selesai membereskan kamar setelah lama berantakan. Nggak ada yang berubah drastis, tapi lo bisa napas lebih lega.

Dan sampai sekarang gue percaya, beberapa tempat memang bukan dibuat untuk dipamerkan. Bukan untuk diunggah. Bukan untuk dipotret perfect dan dikasih caption panjang.

Ada tempat-tempat yang memang cuma dibuat untuk dirasakan.

Hutan mangrove Gili Air dengan perahu dayung itu salah satunya.

Pelan, sunyi, tapi ngasih ruang bagi diri lo buat pulang ke titik yang lebih jernih.

Setelah perjalanan itu, gue kembali ke Lombok dengan kepala yang lebih bersih, hati yang lebih stabil, dan tubuh yang lebih enteng. Mobil dari Lombok Permata udah nunggu di pelabuhan seperti janji mereka. Dan lagi-lagi gue ngerasa, perjalanan yang baik itu harus dimulai dengan transportasi yang bikin lo nyaman.

Karena kalau urusan transportasi ribet, seluruh perjalanan biasanya ikut kacau. Tapi kalau transportasi rapi, pikiran lo bisa fokus menikmati momen.

Jadi kalau suatu hari nanti lo ngerasa butuh momen sunyi buat balik ngecek diri sendiri, cobainlah dayung masuk ke hutan mangrove di Gili Air. Jangan buru-buru, jangan pasang target.

Biarkan perahu yang bergerak.
Biarkan pikiran ikut pelan.
Dan biarkan hati lo… pulang ke tempat yang lebih tenang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *