Beberapa waktu terakhir ini gw sering mikir…
kenapa ya, jalan-jalan sekarang rasanya beda.
Dulu tuh traveling harus padat.
Pagi ke sini, siang ke sana, sore pindah lagi.
Capek iya, foto banyak iya, tapi pulangnya malah butuh liburan lagi.
Sekarang?
Gw malah lebih suka itinerary yang napasnya panjang.
Gak keburu-buru, tapi tetap dapet rasa.
Dan Mandalika, entah kenapa, cocok banget buat model jalan kayak gitu.
Banyak orang mikir Mandalika itu ribet.
Katanya jauh, katanya panas, katanya “itu-itu aja”.
Padahal kalau diatur dengan benar, Mandalika tuh bisa ditaklukin dalam satu hari tanpa bikin kepala cenat-cenut.
Bukan soal ngejar banyak spot.
Tapi soal ngalir.
Pagi: Mulai dari Pantai, Biar Kepala Ikut Bangun
Pagi hari di Mandalika itu ademnya beda.
Bukan adem dingin, tapi adem yang bikin pikiran pelan-pelan nyala.
Gw selalu nyaranin mulai dari pantai.
Entah Pantai Tanjung Aan atau Pantai Selong Belanak, dua-duanya punya karakter yang pas buat pembuka hari.
Pas pasir masih dingin, laut belum berisik, dan matahari belum galak.
Lo bisa duduk aja, buka sandal, biarin kaki kena pasir.
Di momen kayak gini, gw biasanya sadar satu hal:
ternyata liburan gak harus heboh buat kerasa.
Sarapan?
Gak usah fancy.
Kadang kopi panas sama nasi sederhana justru bikin pagi terasa jujur.

Menjelang Siang: Naik Bukit, Biar Perspektif Ikut Naik
Abis pantai, baru deh naik ke bukit.
Mandalika punya banyak bukit kecil yang gak bikin ngos-ngosan, tapi view-nya gak main-main.
Bukit Merese salah satunya.
Dari atas sini, lo bisa liat garis pantai yang panjang, laut biru, dan angin yang gak minta izin sebelum nyentuh muka.
Di titik ini biasanya gw berhenti sebentar.
Bukan buat foto doang, tapi buat diem.
Kadang kita lupa,
yang capek itu bukan kaki, tapi kepala.
Dan berdiri di atas bukit, ngeliat laut sejauh mata bisa nangkep, bikin masalah-masalah itu keliatan… kecil.
Bukan karena masalahnya ilang.
Tapi karena sudut pandangnya berubah.
Siang: Istirahat yang Beneran Istirahat
Siang hari di Mandalika itu panas, iya.
Makanya jangan maksa diri buat ke mana-mana.
Ini waktu yang pas buat istirahat.
Makan siang, duduk agak lama, minum yang dingin, ngobrol pelan.
Banyak orang salah paham soal itinerary.
Dikira makin padat makin seru.
Padahal justru jeda itu yang bikin perjalanan kerasa manusiawi.
Lo gak harus ke semua pantai.
Satu dua yang dinikmati penuh jauh lebih nempel di ingatan.
Sore: Pantai Lagi, Tapi Rasa Beda
Sore hari, Mandalika berubah mood.
Cahaya mulai lembut, angin mulai ramah, laut jadi lebih tenang.
Balik lagi ke pantai, tapi rasanya gak sama kayak pagi.
Kalau pagi itu jujur, sore itu romantis.
Banyak orang baru sadar di jam-jam ini:
“Oh… pantesan orang betah di Lombok.”
Lo bisa jalan pelan di bibir pantai,
atau cuma duduk ngeliat ombak datang dan pergi tanpa agenda.
Dan di sini biasanya gw ketawa sendiri.
Karena sadar,
yang kita kejar selama ini bukan tempatnya, tapi rasanya.
Sunset: Penutup yang Gak Perlu Dramatis
Sunset di Mandalika itu bukan tipe yang teriak minta difoto.
Dia datang pelan, berubah warna dikit demi dikit, lalu pergi tanpa pamit.
Dan justru itu indahnya.
Lo gak perlu mikir angle.
Gak perlu mikir caption.
Cukup hadir.
Satu hari di Mandalika, selesai.
Tanpa drama.
Tanpa kelelahan berlebih.
Tapi entah kenapa… hati rasanya penuh.
Kenapa Itinerary Sehari Ini Lebih Nikmat Pakai Mobil?
dengan menggunakan penyedia sewa mobil lombok, perjalanan bisa menjadi nyaman, santai tidak terburu buru.
