Desa Sukarara: Belajar Tenun Ikat dan Membeli Songket Asli

Beberapa waktu terakhir ini gw sering kepikiran…
kenapa ya, perjalanan yang paling nempel di kepala itu justru bukan yang paling ramai?

Bukan yang jadwalnya padat.
Bukan yang fotonya paling banyak.
Tapi yang bikin langkah pelan dan pikiran ikut diam.

Desa Sukarara itu salah satunya. untuk menuju desa sukarara gw biasanya rental Mobil lombok dari lombok permata

Pertama kali sampai, gw gak langsung merasa “wah”.
Gak ada hiruk pikuk.
Gak ada suara klakson.

Yang ada cuma rumah-rumah sederhana, jalan desa, dan suara alat tenun yang ritmenya konsisten.
Pelan.
Berulang.
Kayak napas.

Dan anehnya, dari situ aja kepala langsung turun volumenya.

Di Sukarara, menenun bukan atraksi.
Bukan tontonan.
Itu kehidupan sehari-hari.

Banyak perempuan di desa ini yang sudah belajar menenun sejak kecil.
Bukan karena tren.
Tapi karena memang diwariskan.

Tenun ikat di sini bukan sekadar kain.
Setiap motif punya cerita.
Setiap warna punya makna.

Dan itu kerasa waktu lo duduk dan bener-bener ngelihat prosesnya.

Belajar menenun di Sukarara bukan soal hasil.
Karena jujur aja, dalam waktu singkat, hasil lo pasti jauh dari rapi.

Tapi justru di situ pelajarannya.

Lo dipaksa pelan.
Fokus.
Gak bisa multitasking.

Kalau benangnya ketarik terlalu kuat, polanya rusak.
Kalau lo keburu-buru, hasilnya kacau.

Di situ gw sadar,
tenun itu latihan sabar yang nyata.

Gak ada shortcut.
Gak bisa dipercepat.

Dan mungkin itu juga kenapa orang-orang yang menenun di sini kelihatannya tenang.
Bukan karena hidup mereka tanpa masalah.
Tapi karena ritme hidupnya gak tergesa.

Setelah nyobain menenun, biasanya orang lanjut ke bagian yang paling menggoda: memilih songket.

Songket Sukarara itu beda.
Bukan karena harganya.
Tapi karena rasanya.

Waktu lo pegang, lo bisa ngerasain berat kainnya.
Padat.
Kokoh.

Bukan kain yang cuma bagus di foto, tapi juga awet dipakai.

Motifnya pun gak dibuat asal.
Ada yang melambangkan doa.
Ada yang simbol harapan.
Ada juga yang ceritanya tentang alam dan kehidupan.

Dan yang bikin pengalaman beli songket di Sukarara jadi spesial, lo tahu siapa yang bikin.

Lo bisa ngobrol langsung sama pengrajinnya.
Denger ceritanya.
Tau berapa lama kain itu dibuat.

Kadang satu lembar songket butuh waktu berminggu-minggu.
Dan itu bikin lo mikir dua kali sebelum nawar asal-asalan.

Bukan karena gak boleh.
Tapi karena lo paham nilainya bukan cuma angka.

Desa Sukarara ngajarin satu hal penting soal perjalanan.
Bahwa pengalaman budaya itu bukan soal foto, tapi soal hadir.

Hadir buat dengerin cerita.
Hadir buat ngerasain proses.
Hadir tanpa buru-buru.

Dan perjalanan ke desa seperti ini biasanya terasa lebih utuh kalau jalannya juga nyaman.
Karena jarak dari pusat Lombok ke Sukarara itu bukan soal jauh atau dekat, tapi soal ritme.

Kalau perjalanannya santai, lo datang dengan kepala yang masih lapang.
Dan itu ngaruh ke cara lo menikmati tempatnya.

Makanya banyak orang yang akhirnya memasukkan Sukarara sebagai bagian dari perjalanan yang lebih tenang.
Bukan sekadar singgah, tapi berhenti sejenak.

Duduk.
Lihat.
Dan ngerasain.

Akhirnya gw paham,
Desa Sukarara bukan destinasi yang bikin lo teriak kegirangan.

Tapi destinasi yang bikin lo diam lebih lama.

Dan di dunia yang serba cepat kayak sekarang,
diam itu mahal.

Bukan karena gak ada yang dilakukan,
tapi karena di situ kita akhirnya benar-benar hadir.

Kalau lo nyari pengalaman Lombok yang gak cuma indah tapi juga bermakna,
Sukarara punya itu.

Dengan cara yang sederhana.
Pelan.
Dan jujur.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *