Beberapa waktu lalu, gw lagi nyetir santai dari Mataram.
Bukan perjalanan yang ngejar pantai.
Bukan juga buru-buru ke spot Instagramable.
Gw cuma pengin ke satu tempat yang katanya… “beda.”
Namanya Desa Lingsar.
Awalnya gw pikir ini cuma desa adat biasa.
Tapi makin deket ke lokasi, suasananya pelan-pelan berubah.
Jalanan makin adem, pepohonan makin rapat, dan entah kenapa kepala gw ikut melambat.
Kayak ada tempat-tempat tertentu yang gak minta lo kagum,
tapi minta lo tenang.
Desa Lingsar ini dikenal sebagai pusat tradisi Wetu Telu, kepercayaan tua masyarakat Sasak yang hidup berdampingan dengan Hindu Bali sejak ratusan tahun lalu.
Dan kata “hidup berdampingan” di sini bukan jargon pariwisata.
Ini kejadian nyata.
Di satu kompleks yang sama, berdiri pura dan tempat ibadah Sasak.
Bukan saling menguasai, bukan saling mengalah.
Tapi saling ngerti.
Dan itu kelihatan banget dari upacara paling terkenalnya: Perang Topat.
Waktu pertama kali gw nonton Perang Topat, jujur…
gw sempat mikir,
“Ini orang-orang kok lempar-lemparan ketupat sambil senyum?”
Ternyata bukan perang buat marah.
Ini perang simbol rasa syukur.

Ketupat dilempar sebagai lambang doa untuk kesuburan tanah dan kemakmuran.
Habis acara, ketupatnya gak dibuang.
Dikumpulin, dibawa pulang, ditanam di sawah.
Kayak dikasih pesan halus:
rezeki itu bukan buat dihabisin sendiri,
tapi dikembaliin ke alam.
Dan entah kenapa, nonton ritual ini bikin gw ngerasa…
tenang tanpa alasan.
Sejarah Lingsar sendiri panjang.
Dari cerita lokal yang diturunin lisan, sampai bukti peninggalan bangunan tua, semuanya nunjukin satu hal:
tempat ini udah jadi titik temu budaya sejak lama.
Di sini, konflik gak dirayakan.
Yang dirawat justru kebiasaan saling menghormati.
Gw jadi mikir,
di luar sana kita ribut beda keyakinan, beda pandangan, beda pilihan.
Di Lingsar, perbedaan justru jadi alasan buat duduk bareng.
Tapi satu hal penting yang gw sadari:
datang ke Lingsar tanpa guide lokal itu rasanya kayak baca buku setengah.
Banyak simbol, banyak aturan tak tertulis, banyak cerita kecil yang gak bakal lo dapet kalau cuma datang, foto, terus pulang.
Guide lokal biasanya orang desa sendiri.
Mereka tau kapan boleh masuk area tertentu,
kapan harus diam,
dan kenapa ada kolam yang gak boleh disentuh sembarangan.
Dan enaknya lagi, mereka ceritanya gak textbook.
Lebih ke ngobrol.
Kayak lo lagi duduk di berugak sambil diceritain sejarah sama orang yang ngalamin langsung kehidupan desa itu.
Soal akses, Desa Lingsar ini paling nyaman dijangkau pakai mobil.
Lokasinya gak ribet, tapi jalurnya bercabang, dan gak semua angkutan umum lewat.
Makanya banyak wisatawan milih jasa rental mobil di mataram, Lombok biar bisa datang lebih santai,
gak kepikiran jadwal,
dan bisa berhenti kapan aja kalau nemu spot yang bikin pengin diam sebentar.
Apalagi kalau datang pagi.
Udara masih bersih.
Suara burung lebih dominan daripada suara mesin.
Tips kecil dari gw kalau mau ke Lingsar:
datang dengan niat pengin belajar, bukan sekadar lihat.
Pakai pakaian sopan.
Jangan ribut.
Dan jangan buru-buru.
Ini bukan tempat buat dikejar.
Ini tempat buat dirasain.
Pulang dari Lingsar, gw gak langsung merasa “wah”.
Gak ada ledakan emosi.
Gak ada dramatis.
Yang ada justru sunyi yang enak.
Kayak diingetin pelan-pelan:
kadang yang bikin hidup adem itu bukan destinasi mahal,
tapi tempat yang ngajarin kita buat gak reaktif.
Dan mungkin itu juga kenapa Desa Lingsar masih bertahan sampai sekarang.
Karena ia gak minta dipuja.
Ia cuma minta dipahami.
Kalau lo lagi di Lombok dan pengin perjalanan yang bukan cuma pindah lokasi,
tapi juga pindah rasa,
Lingsar layak masuk daftar.
Pelan-pelan aja.
Kayak desa ini ngajarin dari awal.
