Desa Beleka Lombok: Kerajinan Lokal, Workshop, dan Wisata Agrowisata yang Menenangkan

Beberapa waktu lalu, gue lagi nyetir di Lombok tanpa tujuan yang terlalu jelas.
Bukan tipe perjalanan yang dikejar itinerary.
Lebih ke pengen jalan aja, belok kalau pengen belok, berhenti kalau hati bilang berhenti.

Dan entah kenapa, setir gue akhirnya ngebawa gue ke satu tempat yang namanya Desa Beleka.

Awalnya gue mikir, “Paling ya desa biasa.”
Tapi ternyata, justru di tempat yang kelihatannya biasa itu, gue ngerasa kepala gue pelan-pelan jadi sepi.

Desa Beleka itu gak nyambut lo dengan hiruk pikuk.
Gak ada suara klakson.
Gak ada teriakan pedagang.
Yang ada cuma bunyi aktivitas pelan: tangan yang bekerja, orang ngobrol lirih, dan angin yang lewat tanpa permisi.

Di situ gue langsung sadar satu hal:
kadang yang bikin capek itu bukan perjalanan jauh,
tapi hidup yang terlalu berisik.

Gue duduk di dekat rumah warga, ngeliat proses kerajinan lokal yang mereka kerjain sehari-hari.
Bukan buat pamer.
Bukan buat konten.
Tapi emang itu cara mereka hidup.

Tangannya jalan pelan tapi pasti.
Gak keliatan buru-buru.
Dan anehnya, ngeliat itu bikin napas gue ikut melambat.

Kayak ada bagian dalam diri yang bilang,
“Oh… ternyata hidup gak harus dikejar terus ya.”

Terus gue diajak ikut workshop kecil.
Bukan workshop ala kota yang penuh teori.
Lebih ke, “Sini duduk, coba aja.”

Gue salah.
Tangan gue kagok.
Hasilnya jelas gak rapi.

Tapi gak ada yang nyalahin.
Gak ada yang ngebenerin sambil ngegas.
Mereka nunggu.

Dan di situ gue ngerasa,
ini bukan soal hasil,
tapi soal proses yang dikasih ruang buat salah.

Abis itu gue jalan ke area agrowisata.
Lahan hijau.
Tanah yang masih hidup.
Tanaman yang tumbuh tanpa disuruh cepet.

Gue jalan pelan, dan kepala gue yang biasanya isinya daftar to-do mendadak kosong.
Bukan kosong yang hampa.
Tapi kosong yang lega.

Kayak abis naruh tas berat yang selama ini gue pikul tanpa sadar.

Di titik itu, gue baru paham kenapa tempat kayak Desa Beleka tuh cocok banget buat orang-orang yang pengen “berhenti sebentar”.
Bukan berhenti hidup.
Tapi berhenti kebut.

Dan perjalanan ke desa kayak gini tuh enaknya emang pake jasa rental mobil di mataram, Lombok.
Karena lo gak kejar-kejaran sama jadwal siapa pun.
Lo bebas berhenti.
Bebas muter arah.
Bebas duduk lama tanpa mikir “nanti pulangnya gimana”.

Rental mobil Lombok itu bukan cuma soal kendaraan.
Tapi soal ngasih ruang buat perjalanan yang manusiawi.

Gue sempet ngobrol sama salah satu warga.
Obrolan ringan.
Tentang cuaca.
Tentang panen.
Tentang hidup yang ya… dijalanin aja.

Dan di situ gue ngerasa,
orang-orang di sini tuh gak banyak mikir soal “kurang”.
Yang ada cukup atau belum.

Dan mungkin, itu yang bikin mereka kelihatan lebih tenang.

Banyak orang datang ke Lombok buat nyari pantai.
Bukit.
Sunset.

Semua itu memang indah.
Tapi Desa Beleka nawarin sesuatu yang beda:
ketenangan yang gak bisa difoto.

Lo gak pulang dengan galeri penuh.
Tapi pulang dengan kepala yang lebih rapi.

Pas gue balik ke mobil, gue gak langsung nyalain mesin.
Gue duduk sebentar.
Narik napas.
Dan ngerasa… pelan.

Perjalanan pake sewa mobil Lombok bikin gue bisa menikmati momen itu tanpa rasa dikejar.
Gak ada alarm.
Gak ada tuntutan.

Cuma gue, desa, dan waktu yang lagi baik hati.

Dan di situ gue dapet satu pelajaran kecil:
kadang kita gak butuh liburan yang heboh.
Kita cuma butuh tempat yang gak maksa kita jadi apa-apa.

Desa Beleka itu salah satunya.

Datang tanpa ekspektasi.
Ikut workshop tanpa target.
Jalan di kebun tanpa buru-buru.

Karena kadang, healing paling nyata itu gak dramatis.
Gak pake tangis.
Gak pake teriak.

Tapi pelan-pelan…
lo pulang dengan versi diri yang lebih tenang dari waktu berangkat.

Dan menurut gue,
itu adalah perjalanan yang paling layak buat diulang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *