Beberapa waktu lalu gw ke Bukit Merese lagi.
Bukan buat ngejar sunset doang.
Bukan juga buat foto klise yang itu-itu lagi.
Entah kenapa, gw pengin datang pelan-pelan.
Lewat jalan kecil, yang gak semua orang pilih.
Yang kadang bikin mikir, “Ini bener gak sih jalannya?”
Dan justru di situ rasanya beda.
Bukit Merese itu sebenarnya simpel.
Bukit rumput, angin laut, garis pantai yang panjang.
Tapi kebanyakan orang datang dengan mindset buru-buru.
Parkir, naik, foto, turun, pulang.
Padahal…
kalau lo mau sedikit melipir, Bukit Merese punya cerita yang lebih tenang.
Gw mulai dari jalan kecil yang jarang dilewati.
Bukan jalan utama yang rame motor dan mobil.
Tapi jalur tanah yang sedikit berdebu, agak sempit, dan harus pelan.
Di situ gw sadar satu hal:
pelan itu bukan lambat.
Pelan itu sadar.
Sadar sama suara angin.
Sadar sama bau rumput kering.
Sadar sama laut yang keliatan makin luas tiap langkah naik.

Semakin ke atas, bukitnya terbagi jadi beberapa kontur kecil.
Kebanyakan orang berhenti di spot paling rame.
Gw lanjut jalan sedikit ke kiri, naik lagi, muter dikit.
Dan di situlah spot foto yang jarang diisi orang.
Lautnya kebuka penuh.
Langit luas tanpa gangguan kepala orang lain.
Rumputnya masih rapi, gak banyak bekas diinjak.
Foto di situ rasanya bukan soal gaya.
Tapi soal momen.
Kadang lo gak butuh angle dramatis.
Cukup berdiri, tarik napas, dan diam.
Yang gw suka dari Bukit Merese itu bukan cuma pemandangannya.
Tapi transisinya.
Dari panas ke sejuk.
Dari ramai ke hening.
Dari ribut ke sunyi.
Dan lo gak bakal dapet semua itu kalau datangnya terburu-buru.
Makanya, banyak yang gak sadar:
akses ke Bukit Merese itu bagian dari pengalaman.
Kalau lo nyetir sendiri atau pakai jasa rental mobil di mataram,Lombok, rasanya beda.
Lo bisa berhenti kapan aja.
Ngelihat sudut yang lo suka.
Gak dikejar waktu.
Habis turun bukit, gw gak langsung pulang.
Gw mampir ke warung kecil dekat area parkir.
Warungnya sederhana.
Bangku kayu.
Minuman dingin.
Mie instan, kopi, dan gorengan.
Tapi obrolannya… hangat.
Pemilik warung cerita soal bukit ini sebelum rame.
Sebelum jadi spot favorit wisatawan.
Dulu cuma tempat gembala sapi dan anak-anak main sore.
Denger cerita kayak gitu bikin lo sadar,
tempat indah itu gak pernah minta jadi viral.
Dia cuma ada.
Kita aja yang kadang datang dengan niat yang salah.
Bukit Merese itu cocok buat lo yang lagi pengin offbeat.
Pengin menjauh dikit dari itinerary padat.
Pengin jalan tanpa target.
Datang pagi, anginnya lembut.
Datang sore, langitnya pelan berubah warna.
Datang sendirian pun gak masalah.
Justru enaknya sendirian.
Biar pikiran lo ikut turun bareng matahari.
Kalau boleh jujur,
perjalanan ke tempat kayak Bukit Merese itu bukan soal destinasi.
Tapi soal cara lo sampai ke sana.
Apakah lo nikmatin jalannya?
Atau cuma fokus sampai?
Di Lombok, banyak tempat yang cantik.
Tapi gak semua orang benar-benar hadir waktu datang ke sana.
Makanya pilihan transportasi juga ngaruh.
Rental mobil Lombok bikin lo punya kendali.
Lo gak harus ikut ritme orang lain.
Lo bisa bikin ritme sendiri.
Bukit Merese ngajarin gw satu hal sederhana:
yang offbeat itu bukan tempatnya,
tapi cara lo mengalaminya.
Lo bisa datang ke spot yang sama,
tapi pulang dengan rasa yang beda.
Karena yang bikin perjalanan berkesan itu bukan checklist,
tapi momen kecil yang lo izinkan buat terjadi.
Dan kadang,
jalan kecil justru nganterin lo ke cerita yang paling ngena.
