Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu: Keindahan Tersembunyi

Beberapa bulan lalu, gue merasa hidup gue tuh kayak macet di tengah jalan yang sepi. Bukan karena ada masalah besar. Justru karena gak ada apa-apa. Semua berjalan datar.
Kerjaan ya gitu-gitu aja, pertemanan adem-ayem, dan entah kenapa… hati gue kayak kehilangan rasa kagum.

Sampai akhirnya, satu hari, temen gue ngajak ke Lombok. Bukan ke pantai, bukan ke Gili, tapi ke air terjun yang katanya, “Lo harus liat langsung. Gue gak bisa jelasin, tapi ini bakal bikin lo diem.”
Gue ketawa waktu itu. Air terjun? Diem? Yakin? Tapi karena gue gak ada agenda lain, yaudah, gue ikut.

Kita pakai mobil sewaan dari Lombok Permata. Gue pikir, yaudah sekadar rental mobil, tapi ternyata supirnya bukan cuma tahu jalan—dia tahu cerita. Sepanjang perjalanan ke arah kaki Gunung Rinjani, dia cerita soal mitos-mitos lokal, soal tempat-tempat yang katanya ‘hidup’.
Gue diem aja. Setengah percaya, setengah geli. Tapi dalam hati, gue nunggu juga sih, ada apa di balik cerita itu semua.

Setelah hampir satu jam dari Mataram, tibalah kita di lokasi. Nama tempatnya: Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu.
Gue turun, dan…

Hening.
Udara dingin menyapa. Tapi bukan dingin yang bikin kaku. Ini dingin yang… ngademin. Suara air jatuh dari ketinggian terdengar pelan-pelan, kayak nyapa dulu sebelum benar-benar ngajak lo masuk.

Gue jalan kaki sekitar 15 menit lewat jalur tanah, di kanan-kiri pepohonan rapat. Dan pas gue sampai, gue ngerti kenapa temen gue bilang “bakal bikin lo diem.”
Benang Stokel itu jatuhnya lurus, deras, kayak benang panjang dari langit. Sedangkan Benang Kelambu, jatuhnya lembut, nyebar, kayak tirai halus yang digantung alam.

Dan tiba-tiba aja, gue ngerasa…
Tenang.

Bukan karena airnya, bukan karena pemandangan hijaunya, tapi karena semuanya kayak ngajak gue untuk berhenti.
Berhenti mikir yang gak penting.
Berhenti ngebut tanpa arah.
Berhenti ngerasa harus selalu jadi produktif.

Gue duduk di batu gede. Nggak main HP, nggak ngobrol, cuma dengerin air.
Itu pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir gue ngerasa bener-bener ada.

Ajaibnya, di situ gue mulai mikir…
Berapa banyak tempat dalam hidup yang kita lewatin, tapi gak pernah kita rasain?
Berapa banyak momen yang kita temuin, tapi gak kita syukuri?
Gue sadar, selama ini hidup gue tuh kayak nonton film sambil scrolling HP. Ada, tapi gak hadir.

Benang Kelambu ngasih gue ruang buat inget bahwa ketenangan tuh bukan dari tempat fancy, tapi dari alam yang kita izinkan untuk ngobrol sama kita.
Dan kadang, kita baru bisa denger suara alam… pas kita berhenti bikin suara sendiri.

Gue ngobrol sama Pak supir pas balik ke mobil. Dia cuma bilang, “Itu tempat sakral, Mas. Banyak orang nangis di sana. Bukan karena sedih, tapi karena nemu sesuatu di dalam dirinya yang udah lama hilang.”
Gue gak nangis sih. Tapi gue paham apa yang dia maksud.

Besoknya, pas balik ke kota, gue ngerasa beda. Gak tahu jelasnya gimana, tapi kayak ada beban yang ilang. Bukan karena masalah selesai, tapi karena hati gue udah gak seberisik kemarin-kemarin.

Dan dari semua perjalanan yang pernah gue lakuin, perjalanan ke Benang Stokel dan Benang Kelambu ini bukan yang paling mahal, bukan yang paling heboh. Tapi jadi salah satu yang paling jujur.
Karena di sana, gue gak perlu pura-pura sibuk. Gak perlu mikir harus foto estetik. Gak harus mikir caption.

Cuma cukup jadi gue.
Duduk.
Diam.
Napas.

Sekarang, setiap kali ada temen gue bilang lagi burn out, lagi bingung hidupnya mau kemana, gue gak kasih motivasi panjang-panjang.
Gue cuma bilang, “Lu ke Lombok. layanan Sewa mobil lombok terbaik, arahkan kaki ke Benang Stokel. Biar air yang ngomong sama lu.”

Dan anehnya ya…
Setiap yang ke sana, pulangnya selalu bilang hal yang mirip,
“Gue gak ngerti kenapa… tapi gue kayak nemu sesuatu.”

Jadi, kalau sekarang lo lagi nyari alasan buat jeda sebentar, atau sekadar pengin tau rasa “tenang” itu masih ada atau enggak…
Coba deh, sekali aja, datang ke tempat yang gak nyuruh lo jadi siapa-siapa.

Benang Stokel dan Benang Kelambu nunggu,
Dan mereka gak butuh lo sempurna.

Cukup datang, dan biarkan suara alamnya bilang:
“Kamu udah cukup.”

Catatan:
Kalau lo butuh kendaraan yang aman, nyaman, dan sopir yang bukan cuma tahu arah, tapi juga tahu rasa—Lombok Permata adalah jawabannya. Karena kadang, perjalanan bukan cuma soal destinasi, tapi soal siapa yang lo temui sepanjang jalan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *