Beberapa waktu terakhir ini gue sering kepikiran…
Kenapa ya, sekarang gue lebih suka datang ke tempat wisata pas lagi sepi?
Padahal dulu beda banget.
Kalau ke tempat bagus, maunya pas golden hour, pas rame, pas semua orang juga lagi di sana.
Kayak ada validasi tersendiri.
Tapi makin ke sini…
Gue justru mulai menikmati momen yang gak banyak orang.
Dan itu kejadian waktu gue ke Bukit Merese di Lombok.
Kalau lo pernah ke sana, lo pasti tau…
Bukit Merese itu bukan cuma soal pemandangan.
Tapi soal rasa.
Bukit kecil, padang rumput luas, view laut dari segala arah.
Simple banget.
Tapi justru di situ letak magisnya.
Dan pertanyaan klasiknya selalu sama:
Lebih enak datang pagi atau sore?
Awalnya gue juga mikir,
ya jelas sore lah.
Sunset.
Langit warna oranye.
Foto estetik.
Klasik.
Tapi setelah gue cobain dua-duanya…
Ternyata jawabannya gak sesimpel itu.
Gue mulai dari pagi dulu.
Datang ke Bukit Merese pagi itu rasanya beda banget.
Masih sepi.
Angin pagi masih adem.
Langit pelan-pelan berubah warna dari gelap ke terang.
Gak banyak suara.
Gak banyak orang.
Cuma lo…
dan alam.
Di momen itu, gue ngerasa sesuatu yang jarang gue rasain.
Tenang.
Bukan tenang karena gak ada masalah.
Tapi tenang karena gak ada distraksi.
Lo bisa duduk di atas rumput…
Lihat laut yang masih “tidur”…
Dan pikiran lo pelan-pelan ikut diam.
Dan di situ gue sadar satu hal.

Pagi di Bukit Merese itu bukan buat konten.
Tapi buat koneksi.
Koneksi sama diri sendiri.
Karena gak ada yang perlu lo kejar.
Gak ada momen yang harus lo abadikan buru-buru.
Lo cuma ada di situ.
Tapi ya…
Pagi juga punya “kekurangan”.
Gak semua orang kuat bangun pagi.
Dan gak semua orang suka suasana yang terlalu sepi.
Kadang justru terasa… kosong.
Nah, beda cerita kalau sore.
Bukit Merese sore itu hidup.
Orang mulai berdatangan.
Ada yang duduk santai, ada yang foto-foto, ada yang sekadar ngobrol.
Langit mulai berubah warna.
Angin sore lebih terasa hangat.
Dan pas matahari mulai turun…
Semua orang kayak berhenti sebentar.
Diam.
Ngelihat.
Sunset di Bukit Merese itu emang gak pernah gagal.
Warna langitnya dramatis.
Siluet bukit dan laut jadi satu frame yang sempurna.
Dan di momen itu, lo ngerasa…
“Ya, ini alasan gue ke sini.”
Tapi…
Di balik semua keindahan itu, ada satu hal yang kadang gak kita sadari.
Sore itu rame.
Dan keramaian itu kadang bikin momen jadi “terbagi”.
Lo lagi nikmatin sunset…
Tapi di sebelah lo ada yang teriak manggil temen buat foto.
Di belakang lo ada yang muter musik.
Di depan lo ada drone terbang.
Dan tanpa sadar, fokus lo kebagi.
Di titik ini gue mulai ngerti…
Pagi dan sore di Bukit Merese itu bukan soal mana yang lebih bagus.
Tapi soal… lo lagi butuh apa.
Kalau lo lagi butuh ketenangan,
lagi pengen recharge,
lagi pengen jauh dari kebisingan…
Datang pagi.
Karena pagi ngasih lo ruang.
Tapi kalau lo lagi pengen suasana hidup,
pengen momen yang hangat,
pengen lihat keindahan yang “ramai dinikmati”…
Datang sore.
Karena sore ngasih lo energi.
Dan menariknya…
banyak orang datang ke tempat yang sama, tapi dapet pengalaman yang beda.
Bukan karena tempatnya berubah.
Tapi karena waktu dan kondisi dirinya yang beda.
Perjalanan ke Bukit Merese sendiri juga jadi bagian penting.
Lokasinya di area Kuta Lombok, dan aksesnya cukup jauh kalau dari kota.
Makanya banyak wisatawan sekarang lebih milih pakai penyedia sewa mobil Lombok.
Bukan cuma soal praktis.
Tapi biar perjalanan lebih santai.
Lo gak perlu mikir arah, gak capek di jalan, dan bisa berhenti kapan aja kalau nemu spot menarik.
Karena jujur aja…
Perjalanan di Lombok itu sendiri udah indah.
Dan sayang banget kalau dilewatin dengan buru-buru.
Akhirnya gue sampai di satu kesimpulan sederhana.
Kadang kita terlalu fokus nyari “waktu terbaik” ke suatu tempat.
Padahal mungkin…
yang lebih penting itu bukan waktunya.
Tapi kesiapan kita buat hadir di momen itu.
Bukit Merese pagi atau sore…
dua-duanya indah.
Dua-duanya punya cerita.
Dan dua-duanya bisa jadi pengalaman yang beda,
tergantung lo datang sebagai siapa hari itu.
Karena pada akhirnya…
Tempat yang sama,
di waktu yang berbeda,
bisa ngasih rasa yang sama sekali gak sama.
Dan mungkin,
di situlah serunya perjalanan.




