Beberapa waktu lalu gue ngobrol sama seorang teman yang baru pertama kali jalan-jalan ke Lombok.
Dia bilang sesuatu yang menarik.
Katanya gini,
“Gue kira Lombok itu cuma pantai sama Gili. Ternyata desa-desanya malah lebih berkesan.”
Awalnya gue cuma senyum.
Karena jujur aja, banyak orang datang ke Lombok dengan ekspektasi yang sama. Fokusnya selalu laut, sunset, atau pulau kecil yang eksotis.
Padahal kalau lo mau sedikit masuk ke tengah pulau, ada pengalaman lain yang justru lebih terasa hidup.
Wisata desa.
Dan Lombok Tengah punya cukup banyak desa yang bisa dijelajahi bahkan hanya dalam satu hari.
Gue pernah coba rute ini beberapa kali ketika ada teman yang datang ke Lombok.
Bukan itinerary yang ribet. Justru yang santai.
Mulai pagi, muter beberapa desa, makan siang di tengah sawah, lalu sore lanjut ke pantai Mandalika.
Simple.
Tapi surprisingly lengkap.
Biasanya perjalanan dimulai dari arah Kota Mataram atau dari area Senggigi.
Kalau berangkat pagi, sekitar jam 8, perjalanan menuju Lombok Tengah terasa cukup menyenangkan.
Jalanannya mulai berubah.
Gedung kota perlahan berkurang, diganti dengan sawah yang luas dan perbukitan yang hijau.
Kadang ada petani yang lagi bekerja. Kadang ada anak-anak sekolah naik motor bareng teman-temannya.
Hal-hal kecil seperti ini yang bikin perjalanan terasa lebih hangat.
Destinasi pertama yang sering gue rekomendasikan adalah Desa Sade.
Desa ini bisa dibilang salah satu desa adat Sasak yang paling dikenal wisatawan.
Rumahnya masih menggunakan atap alang-alang.
Dindingnya dari anyaman bambu.
Dan struktur rumahnya masih mengikuti pola tradisional.
Yang menarik bukan cuma bentuk rumahnya, tapi kehidupan masyarakatnya.
Di beberapa sudut desa, lo bisa lihat ibu-ibu yang sedang menenun kain.
Kain tenun Sasak yang terkenal itu memang banyak berasal dari desa-desa seperti ini.
Dan kalau lo ngobrol sebentar dengan warga setempat, biasanya mereka dengan senang hati menjelaskan proses pembuatannya.
Setelah dari Sade, perjalanan bisa lanjut ke Desa Sukarara.

Tempat ini juga cukup terkenal sebagai pusat tenun tradisional Lombok.
Kalau di Sade lo melihat kehidupan desa adat, di Sukarara lo bisa melihat bagaimana kain tenun itu diproduksi lebih luas.
Di beberapa rumah, alat tenun kayu masih digunakan secara manual.
Prosesnya pelan, tapi justru di situlah seninya.
Kadang wisatawan juga diajak mencoba menenun beberapa menit.
Biasanya sih baru beberapa gerakan saja sudah sadar kalau pekerjaan itu tidak semudah kelihatannya.
Setelah dua desa budaya, biasanya perjalanan gue lanjutkan ke tempat yang suasananya lebih santai.
Desa Bilebante.
Tempat ini terkenal sebagai desa agrowisata yang cukup populer di Lombok Tengah.
Begitu masuk area desa, suasananya langsung berubah.
Sawah terbentang luas.
Udara terasa lebih segar.
Dan jalan-jalan kecil di antara sawah terlihat sangat tenang.
Di sini aktivitas favorit biasanya adalah bersepeda keliling sawah.
Bukan jalur yang sulit, justru cocok untuk santai.
Kadang lo akan melewati petani yang sedang bekerja, atau warga desa yang sedang duduk di berugak.
Semua terasa pelan.
Dan itu justru yang dicari banyak traveler sekarang.
Siang hari biasanya jadi waktu yang pas untuk makan.
Beberapa rumah di Bilebante menyediakan makanan khas Lombok yang dimasak langsung oleh warga desa.
Ayam taliwang.
Plecing kangkung.
Beberapa lauk sederhana yang rasanya justru sangat autentik.
Makan di tengah desa, dengan pemandangan sawah dan angin yang pelan lewat, sering kali jadi salah satu momen favorit dalam perjalanan ini.
Setelah makan siang dan istirahat sebentar, perjalanan biasanya dilanjutkan menuju arah Mandalika.
Perjalanan dari desa ke kawasan Mandalika tidak terlalu jauh.
Sekitar 20 sampai 30 menit saja.
Dan perubahan suasananya cukup terasa.
Dari desa yang tenang, tiba-tiba lo sampai di kawasan pantai yang luas dengan pemandangan laut biru.
Banyak orang biasanya memilih mengakhiri perjalanan di Pantai Kuta Mandalika.
Duduk santai di pasir, minum kelapa muda, dan menikmati angin sore.
Cara yang sederhana untuk menutup satu hari perjalanan.
Rute seperti ini sebenarnya cukup populer bagi wisatawan yang ingin melihat sisi Lombok yang lebih lengkap.
Bukan hanya laut, tapi juga desa, budaya, dan kehidupan lokal.
Masalahnya, lokasi-lokasi ini tidak selalu mudah dijangkau jika hanya mengandalkan transportasi umum.
Beberapa desa berada di jalan kecil, jauh dari jalur transportasi wisata biasa.
Itulah kenapa banyak wisatawan akhirnya memilih menggunakan sewa mobil Lombok murah.
Dengan kendaraan sendiri, perjalanan jadi jauh lebih fleksibel.
Lo bisa berhenti kapan saja, mampir ke desa kecil yang menarik, atau sekadar berhenti di pinggir jalan untuk menikmati pemandangan.
Hal-hal spontan seperti itu sering kali justru jadi cerita paling menarik dalam perjalanan.
Banyak tamu yang menggunakan layanan rental mobil Lombok biasanya memang memilih rute eksplorasi seperti ini.
Tidak terlalu terburu-buru.
Tidak terlalu padat.
Tapi tetap memberikan pengalaman yang lengkap.
Dalam satu hari, lo bisa melihat budaya Sasak, desa tradisional, agrowisata, sampai pantai Mandalika.
Kadang perjalanan yang paling berkesan bukan yang paling jauh.
Tapi yang memberi kita kesempatan untuk melihat kehidupan lokal lebih dekat.
Melihat orang menenun di teras rumah.
Melihat petani bekerja di sawah.
Atau sekadar duduk di berugak sambil menikmati angin desa.
Hal-hal sederhana seperti itu yang sering membuat orang merasa Lombok punya sesuatu yang berbeda.
Dan Lombok Tengah adalah salah satu tempat terbaik untuk merasakan pengalaman itu dalam satu hari perjalanan yang santai.




